Home » religi » Penyebab Batalnya Wudlu

Penyebab Batalnya Wudlu

Menjaga wudlu adalah salah satu perbuatan yang dapat mendatangkan kemuliaan diri di hadapan Allah SWT. Tidak mudah untuk melakukannya, tapi juga tidak sulit. Tergantung seberapa kuat niat kita untuk mengamalkannya. Postingan ayasnotes kali ini akan berbagi tentang hal-hal yang menyebabkan batalnya wudlu. Jika kita ingin bisa istiqomah dalam menjaga wudlu, tentu yang harus dilakukan setelah berniat dan berwudlu adalah mengetahui penyebab batalnya wudlu supaya kita bisa segera mengambil wudlu lagi begitu hal-hal tersebut kita lakukan atau terjadi pada diri kita.

1. Kencing / buang air kecil
Kencing termasuk hadast kecil sehingga berdasarkan hadist tersebut di atas kencing adalah salah satu penyebab batalnya wudlu.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian jika ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 135)
2.Buang Air Besar
Buang air besar juga termasuk hadast kecil, oleh karena itu jika kita buang air besar (BAB) maka secara otomatis wudhu kita menjadi batal.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman sebagai berikut: “Atau salah seorang dari kalian kembali dari buang air besar…” (Al-Maidah: 6)
Ayat tersebut merupakan ayat wudhu yang menyebutkan perkara yang mengharuskan wudhu (bila seseorang hendak mengerjakan shalat)

3. Keluar angin dari dubur (kentut)
Perlu diketahu sebelumnya bahwa mayoritas umat muslim di Indonesia adalah penganut mazhab Imam Syafii dan dalam mazhab ini angin yang keluar dari dubur (kentut) dianggap termasuk penyebab batalnya wudhu. Hal ini didasarkan pada hadist berikut:
Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Al-Mazini radhiallahu ‘anhu berkata: “Diadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang menyangka dirinya kentut ketika ia sedang mengerjakan shalat. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jangan ia berpaling (membatalkan shalatnya) sampai ia mendengar bunyi kentut (angin) tersebut atau mencium baunya.” (HR. Al-Bukhari no. 137 dan Muslim no. 361)
Jadi, bila seseorang dalam kondisi berwudlu, maka wudlunya akan batal ketika ia buang angin baik sengaja maupun tanpa sengaja.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian jika ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR. Bukhari no. 135)
Mendengar penyampaian Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ini, berkatalah seorang lelaki dari Hadhramaut: “Seperti apa hadats itu wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab: “Angin yang keluar dari dubur (kentut) yang bunyi maupun yang tidak bunyi.”

Sebagai pengecualian, Bagi orang yang terus menerus keluar hadats darinya seperti penderita penyakit beser (kencing terus menerus) atau orang yang kentut terus menerus atau buang air besar terus menerus maka ia diberi udzur di mana thaharahnya tidaklah dianggap batal dengan keluarnya hadats tersebut.

4. Keluar Madzi atau Wadi
Keberadaan wadi sama halnya dengan madzi atau kencing sehingga keluarnya madzi termasuk pembatal wudhu. Hal ini didasarkan pada hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ali berkata: “Aku seorang yang banyak mengeluarkan madzi, namun aku malu untuk bertanya langsung kepada Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena keberadaan putrinya (Fathimah radhiallahu ‘anha) yang menjadi istriku. Maka akupun meminta Miqdad ibnul Aswad radhiallahu ‘anhu untuk menanyakannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab:
“Hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)

6. Keluar Darah Haid dan Nifas
Penyebab batalnya wudlu yang keenam ini sudah cukup banyak diketahui umat muslim. Darah haid dan nifas yang keluar dari kemaluan seorang perempuan adalah hadats besar sehingga keduanya membatalkan wudhu perempuan yang bersangkutan. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah di atas tentang batalnya wudhu karena hadats. Perlu diketahui pula bahwa selama darah haid dan nifas ini keluar dari kemaluan makaa diharamkan bagi perempuan tersebut untuk mengerjakan shalat, puasa dan bersenggama dengan suaminya sampai ia suci.
Sebagai pengecualian, jika darah dari kemaluan itu keluar terus menerus di luar waktu kebiasaan haid dan bukan disebabkan melahirkan (seperti pada wanita yang menderita istihadhah). Perempuan yang menderita istihadhah dihukumi sama dengan perempuan yang suci sehingga ia tetap mengerjakan shalat walaupun darahnya terus keluar.

7. Keluarnya Mani
Keluarnya mani merupakan hadast besar sehingga seseorang yang keluar maninya wajib baginya mandi, tidak cukup hanya berwudhu.

8. Jima’ (senggama)
Hal ini sudah cukup jelas berdasarkan hadist berikut:
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Apabila seorang suami telah duduk di antara empat cabang istrinya kemudian dia bersungguh-sungguh padanya (menggauli istrinya), maka sungguh telah wajib baginya untuk mandi (janabah).” (HR. Al-Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)
Dalam riwayat Muslim ada tambahan:
“Sekalipun ia tidak keluar mani.”
Dari hadits di atas kita pahami bila jima‘ (senggama) sekalipun tidak sampai keluar mani menyebabkan seseorang harus mandi, sehingga jima‘ perkara yang membatalkan wudhu.

Setelah kita mengetahui penyebab-penyebab batalnya wudlu seperti tersebut di atas, mari bersama-sama mulai menjaga wudlu kita. semoga hal itu bernilai ibadah 🙂

Print Friendly
Bagikan ya
tags: