Memahami Pernikahan Sekufu dalam Islam

Last Updated on

Siapapun ingin pernikahan yang ideal. Tapi bagaimana cara kita mengetahui bahwa sebuah pernikahan sudah merupakan pernikahan yang ideal? Postingan dibawah ini saya copas secara utuh dari sini.
Smoga membuat kita bisa memahami hubungan antara pernikahan ideal dengan pernikahan sekufu.

Pernikahan Ideal = Pernikahan Sekufu ?

Mungkin sekali diantara kita yang masih bertanya-tanya apakah pernikahannya adalah pernikahan yang ideal. Dan apakah pernikahan yang ideal itu sama dengan pernikahan sekufu. Dalam bahasa kufu yang dimaksud adalah kafa’ah yang artinya kurang lebih adalah setaraf, sederajat atau sebanding. Tetapi jodoh memang sebuah rahasia Allah SWT yang setiap orang tidak dapat menentukannya sendiri.


Tidak bisa dipungkiri kriteria yang setaraf, sederajat atau sebanding menjadi salah satu faktor kebahagiaan hidup berumah tangga, meski sifatnya tidak mutlak. Karena sebuah pernikahan adalah bukan saja penyatuan atas seorang pria dan wanita, melainkan lebih dari itu adalah sebuah ritual suci yang juga menyatukan dua buah keluarga besar dari kedua mempelai. Sehingga suatu kebahagiaan dan ketentraman di dalam pernikahan sangat dipengaruhi
oleh kondisi dan interaksi dari kedua belah keluarga besar tersebut.


Di dalam Fiqih Sunnah, Sayid Sabiq ada beberapa hal yang dianggap sebagai ukuran kufu, antara lain ; karena keturunannya, bukan hamba sahaya / merdeka, beragama islam, mempunyai pekerjaan, karena kekayaannya dan karena kondsi fisik/tidak cacat. Namun demikian ukuran-ukuran tersebut pun masih dapat diperdebatkan.

Dari beberapa kriteria pernikahan sekufu, maka dapat diringkas sebab dan akibat sekufu antara lain sebagai berikut :


1. Memiliki Kualitas Akhlak yang Sama

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). (QS.24.26)


Ayat ini menegaskan bantahan terhadap kaum munafik yang telah menuduh Siti Aisyah ra telah berzina. Ayat ini juga menegaskan bahwa wanita-wanita yang baik akhlaknya hanya pantas untuk laki-laki yang akhlaknya baik-baik pula. Artinya seseorang akan berjodoh dengan seorang yang mempunyai kualitas akhlak yang sama. Dan apabila diri kita masuk kedalam kategori “setengah baik-baik” maka kita akan berjodoh dengan orang yang “setengah baik-baik”. Inilah sekufu dalam sudut pandang akhlaknya. Namun demikian, yang bias mengukur atas kadar kualitas akhlak seseorang bukanlah manusia, tetapi Allah SWT. Manusia hanyalah mengetahuinya dari ciri-ciri seseorang dan perbuatannya.


Di dalam kenyataan, seseorang akan dipertemukan jodohnya dengan seseorang di tempat dimana mereka lebih banyak berada. Sebagai contoh, seorang yang aktif di dalam sebuah majelis ilmu, kemungkinan untuk mendapatkan jodoh yang juga aktif di dalam sebuah majelis ilmu cukup besar. Atau sebaliknya, seorang yang sering berkunjung ke sebuah bar atau tempat-tempat hiburan malam, maka peluang untuk mendapatkan jodoh di tempat tersebut juga cukup besar.


Maka dari itu, untuk mendapatkan jodoh seorang yang baik-baik, sebaiknya dalam menjemput jodoh kita lakukan di tempat-tempat yang baik pula dan lebih mengintensifkan waktu kita di tempat yang Allah SWT ridhai. Dalam mendapatkan jodoh, seseorang lebih cenderung memilih orang yang baik baik, meski dirinya bukanlah orang yang baik-baik. Untuk itu diperlukan cermin, sehingga seseorang dapat menginstrospeksi terhadap dirinya sendiri, sejauh mana kualitas dirinya.


Dalsm masalah sekufu atas akhlak, Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita apabila datang seorang laki-laki yang akhlaknya baik melamar ke seorang wanita, maka hendaknya diterima.


Dari Abu Hatim al Muzani, Rasulullah SAW bersabda ” Jika datang kepadamu laki-laki yang agamanya dan akhlaknya kamu sukai, kawinkanlah ia. Jika kamu tidak berbuat demikian, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang hebat di atas permukaan bumi, ” Sahabat bertanya, ” Wahai Rasulullah, bagaimana kalau ia sudah beristri ?” Rasulullah menjawab, “Jika datang kepadamu laki-laki yang agamanya dan akhlaknya kamu sukai, kawinkanlah ia ” sampai tiga kali. (HR at Tirmidzi).


2. Sebagai Ujian dari Allah SWT
Meskipun sebagian orang mendapatkan jodoh sesuai dengan kualitas akhlaknya, namun demikian ada sebagian orang lagi yang mendapatkan jodoh tidak sepadan kualitas akhlaknya. Ini terjadi pada diri Siti Asiyah dengan Fir’aun, Nabi Nuh as dengan istrinya, Nabi Luth as dengan istrinya, Khaulah binti Tsa’ labah dengan Aus bin Samit, serta beberapa contoh pernikahan di zaman sekarang ini.


Dari semua pernikahan tersebut, masing-masing dilatar belakangi oleh peristiwa yang berbeda, yang lebih utama dari itu adalah masing-masing pernikahan tersebut memberikan hikmah yang begitu dalam. Kisah pernikahan Siti Asiyah dengan Fir’aun menunjukkan bukti kesetiaan seorang istri terhadap suaminya yang kafir, tetapi pada saat Siti Asiyah dihadapkan kepada pilihan, lebih setia kepada siapa antara kepada suaminya atau kepada Allah SWT, maka tak segan-segan ia memilih kesetiannya kepada Allah SWT.


Kisah Nabi Nuh as dan Nabi Luth as dengan istri-istrinya menunjukkan penerapan hukum dari Allah SWT tidak pandang bulu. Tidak ada keistimewaan antara istri nabi dengan yang lainnya. Siapa saja yang bersalah dan menentang hukum-hukum Allah SWT pasti akan diadili. Dan bagi seorang nabipun tidak dapat memohonkan ampunan kepada istrinya yang durhaka kepada Allah SWT.


Demikian juga dengan kisah pernikahan antara Khaulah binti Tsa’labah dengan Aus bin Shamit. Kisahnya memberikan hikmah yang begitu dalam hingga melatarbelakangi turunnya ayat di al Qur’an. Dikisahkan, bahwa Khaulah binti Tsa’labah seorang muslimah yang taat dengan usia yang terpaut cukup jauh dengan Aus bin Samit. Namun demikian Rasulullah SAW menjodohkan mereka dengan tujuan agar Aus bin Samit yang mempunyai perangai yang buruk dapat mengikuti kesalihan istrinya. Dan pada suatu ketika Aus bin Samit mengatakan kepada Khaulah binti Tsa’labah kalau dia sama seperti ibunya. Dan ketika Aus bin Samit berkeinginan untuk berhubungan intim, Khaulah binti Tsa’labah menolaknya. Ia minta kepada suaminya untuk menarik kembali ucapannya, namun ditolak, hingga Aus bin Shamit marah besar. Akhirnya Khaulah binti Tsa’labah mengadu kepada Rasulullah SAW. Dan Allah SWT menurunkan
firman-Nya ;


Sesungguhnya Allah Telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat (QS.58.1)

Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. dan Sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS.58.2)

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.58.3)


Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), Maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak Kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (QS.58.4)

Dan akhirnya Aus bin Shamit dapat merubah perangai buruknya. Kehidupan mereka pun menjadi semakin harmonis, karena telah lulusnya ujian dari Allah SWT. Sungguh sangat beruntung apabila seorang mukmin dapat mengambil hikmah dan selalu sabar atas ujian di dalam pernikahannya.


Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka Karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang Telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya
kebaikan yang banyak. (QS.4.19)


3. Pernikahan Karena Perintah Allah SWT Langsung
Sebab akibat pernikahan juga dapat terjadi karena benar-benar perintah dari Allah SWT secara langsung. Seperti perintah Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk menikahi Ummahatul Mukminin Zainab binti Jahsy ra.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata. (QS.33.36)


Dan (ingatlah), ketika kamu Berkata kepada orang yang Allah Telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) Telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid Telah mengakhiri keperluan terhadap Istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu Telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. (QS.33.37)


Kisah pernikahan tersebut sering dijadikan bahan untuk kaum orientalis untuk mengolok-olok Rasulullah SAW. Padahal perintah untuk menikahi Zainab binti Jahsy ini sebagaimana di ayat tersebut adalah dengan maksud supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk menikahi mantan istri-istri dari anak-anak angkat mereka yang sudah dicerai. Dan dengan pernikahan tersebut dapat menguatkan perintah agar seseorang tidak memberikan nasab nama anak angkatnya dengan ayah angkatnya sendiri, karena status anak angkat itu hanya seperti layaknya saudara saja.

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah mengatakan yang Sebenarnya dan dia menunjukkan jalan (yang benar).
(QS.33.4)


Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu (mantan budak yan sudah bebas) dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi
(yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.33.5)


Itulah beberapa kisah sebab akibat pernikahan yang menunjukkan hikmah besar di baliknya dan menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah SWT serta agar firman-firman-Nya dapat dimengerti dengan jelas oleh hamba-hamba-Nya. Sehingga pengertian sekufu mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda. Karena hanya Allah lah yang tahu, seseorang akan berjodoh dengan siapa. Entah apakah jodohnya itu adalah disebabkan adanya persamaan/setaraf kualitas akhlaknya ataukah jodonya tersebut sebagai ujian baginya agar menjadi lebih dekat kepada Allah dan dapat menjadikan jodohnya untuk turut serta taat dengan hukum-hukum Allah SWT.


Yang pasti di dalam sebuah pernikahan, seorang mukmin diperintahkan untuk menjaga keluarganya dari kesesatan di dunia yang menjerumuskan keluarganya ke neraka, sehingga sebuah pernikahan yang ideal dapat kita nikmati bersama-sama dengan pasangan kita masing-masing.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS.66.6)

Memahami Pernikahan Sekufu dalam Islam | ayas | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *