Home » hobi » Berpikir Beda

Berpikir Beda

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti kuisnya Kick Andy dan menang, dapat buku berjudul Whatever You Think, Think the Opposite. Penulisnya Paul Arden. Sebenarnya saya ngincer novel Laskar Pelangi, tapi dapat buku ini. Tidak apa-apa, buku ini bagus juga kok, agak nyentrik malah. Oleh karena itu saya mau bagi-bagi cerita tentang isi buku itu disini. Siapa tahu bermanfaat.


Buku ini termasuk berukuran kecil, walaupun tetap tidak muat untuk dimasukkan ke saku baju. Covernya putih, judul buku ditulis dengan dengan warna hitam dan merah. Kesannya sederhana. Buat yang suka buku banyak gambarnya, sepertinya cocok untuk baca buku ini. Dalam buku ini ada cukup banyak gambar karena dari 143 halaman hampir tiap halaman ada gambarnya. Gambar-gambar tersebut unik dan nyentrik, sangat menunjang untuk mengilustrasikan apa yang ingin disampakan oleh penulis buku ini, tapi ada kekurangannya nih, beberapa diantara gambar tersebut terlalu vulgar, kalau penasaran, cari tahu sendiri ya… 😉 .


Mulai halaman pertama, membaca buku ini kita diajak untuk berpikir beda, berlawanan dengan apa yang dipikirkan orang pada umumnya. Dalam buku ini, daripada sekedar menceramahi pembaca untuk berpikir beda, Arden memberikan contoh-contoh konkret orang yang berani berpikir beda dan akhirnya ………sukses!


Berikut hanyalah dua dari beberapa contoh yang ditampilkan dalam buku. Contoh pertama, George Eastman di tahun 1881 berhenti jadi pegawai bank untuk membuka perusahaan fotografi. Setelah tujuh tahun berjalan, dia merubah nama perusahaanya tersebut menjadi Kodak. Sebuah nama yang singkat padat tapi tidak jelas karena kata kodak ini tidak mempunyai arti. Alasan Eastman memilih nama itu karena singkat padat dan tidak punya arti itu tadi. Diharapkan dengan nama seperti itu nantinya orang bisa mudah ingat. Selain itu, jika orang dengar kata kodak, orang langsung ingat ke produk yang dimaksud. Sekarang sudah terbukti kan..


Contoh berikutnya, seorang fotografer bernama Karl Blossfeldt, beda dengan yang lainnya di jamannya (sekitar 80 tahun yang lalu), dia memotret sebuah tumbuhan dengan sedemikian rupa sehingga tampak seperti gedung pencakar langit. Menurut Arden, hasil jepretan Blossfeldt berhasil membuat orang kagum terutama orang-orang di jamannya.


Dalam buku ini juga ada kata-kata bijak, salah satunya yang saya terjemahkan disini: “Daripada menunggu kesempurnaan, jalani saja apa yang ada dengan yang kamu miliki, dan perbaikilah sambil jalan. Sebenarnya dalam buku ini juga ada ‘nasehat’ yang agak ‘menyesatkan’ kalau tidak hati-hati menafsirkan. Salah satu contohnya adalah: Lebih baik hidup dalam ketidaktahuan daripada hidup dengan pengetahuan. Kalau kita telan mentah-mentah nasehat di atas, lantas buat apa sekolah? Jadi saya rasa tidak salah kalau saya sebut buku ini agak nyentrik.
Nha buat yang tertarik membaca buku ini lebih lanjut, saya ucapkan selamat membaca.

Print Friendly
Bagikan ya
tags: ,